Awalnya, niat berangkat KEMBARA (Kemah Bela Negara) PKS Jakarta Selatan terasa begitu berat bagi seorang anggota. Bukan karena tidak ingin ikut, apalagi tidak mendukung kegiatan. Namun, membayangkan harus berkemah selama beberapa hari di alam terbuka, tidur beralaskan matras, jauh dari kenyamanan rumah, dan membawa perlengkapan sendiri, rasanya sudah cukup membuat semangatnya naik turun. Belum lagi urusan pekerjaan, persiapan, dan sederet barang yang harus disiapkan. Dalam hati, ia sempat berpikir, “Apa iya saya harus ikut? Memangnya semua perlengkapan itu harus punya?”
Namun, rupanya sang istri punya rencana lain. Tanpa banyak bicara, diam-diam ia mulai menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Carrier untuk membawa barang, sleeping bag untuk tidur di tenda, flysheet sebagai pelindung tambahan, tali pramuka, nesting untuk memasak, matras untuk alas tidur, hingga baju ganti yang sudah dilipat rapi. Tak ketinggalan bekal makanan, kopi kesukaan suami, topi rimba untuk melindungi kepala dari terik matahari, dan tongkat rotan yang siap menemani perjalanan. Satu per satu perlengkapan dikumpulkan, seolah-olah sang istri sudah lebih dulu membayangkan suaminya menjelajah alam selama beberapa hari.
Ketika semua perlengkapan itu akhirnya terlihat, ada yang berubah dalam dirinya. Keraguan yang semula begitu besar perlahan berganti menjadi rasa haru, gembira, sekaligus semangat. Ternyata, bukan hanya dirinya yang sedang bersiap untuk KEMBARA. Sang istri pun ikut berangkat, meskipun hanya lewat doa, perhatian, dan barang-barang yang disiapkannya. Carrier yang tadinya terlihat merepotkan kini terasa seperti tanda dukungan. Sleeping bag dan matras bukan lagi sekadar perlengkapan tidur, melainkan bekal agar suaminya tetap nyaman. Bahkan tongkat rotan pun mendadak terlihat gagah, meskipun belum tentu nanti benar-benar diperlukan.
Akhirnya, ia pun mantap berangkat. Bukan semata-mata karena perlengkapan sudah lengkap, tetapi karena ada seseorang di rumah yang begitu tulus mendukung langkahnya. Ia sadar, KEMBARA bukan hanya tentang berjalan, berkemah, atau mengikuti berbagai kegiatan. Ada semangat kebersamaan, persaudaraan, dan pengabdian yang menunggunya di sana. Dan kali ini, ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada isi carriernya: rasa cinta dan dukungan dari rumah. Bahkan mungkin, di antara semua perlengkapan yang dibawa, kopi yang disiapkan sang istri akan menjadi teman paling dicari ketika malam mulai dingin.
Kadang, semangat berangkat tidak datang dari pidato atau ajakan teman seperjuangan. Kadang, cukup dari seorang istri yang diam-diam menyiapkan carrier, flysheet, tali pramuka, nesting, matras, sleeping bag, baju ganti, bekal makanan, kopi, topi rimba, hingga tongkat rotan. Sebab di balik seorang pejuang yang melangkah menuju KEMBARA, bisa jadi ada seseorang di rumah yang lebih dulu menyiapkan segalanya, agar ia berangkat dengan hati yang ringan dan pulang membawa cerita.
