Fenomena gercos (gerakan coblos semua) dan golput yang sempat viral di kalangan pemilih kini mulai menunjukkan penurunan. Kesaksian ini datang dari relawan RIDO Lenteng Agung, Jagakarsa, yang dengan sabar dan penuh strategi melibatkan diri dalam upaya penyadaran dan edukasi politik.
“Kami sempat khawatir melihat tren golput yang melonjak. Tapi setelah turun langsung, berdialog, dan membuka ruang tanya jawab, kami sadar banyak yang golput itu bukan karena ideologi, melainkan kebingungan atau kekecewaan terhadap politik,” ujar seorang relawan yang akrab disapa Mas Wiwit.
Pendekatan dua arah menjadi startegi utama para relawan RIDO. Bukan sekadar bicara, melainkan mendengarkan, merangkul keresahan, dan menawarkan solusi nyata. Relawan RIDO tak hanya menyampaikan visi dan misi kandidat, tetapi juga memberikan pemahaman akan pentingnya satu suara untuk perubahan.
“Ketika mereka merasa didengar dan dihormati, perlahan sikap apatis itu luruh. Kami juga memberikan contoh-contoh nyata bagaimana partisipasi aktif bisa membawa perubahan, terutama di tingkat lokal,” lanjutnya.
Namun, perjuangan ini tak sepenuhnya mudah. Bagi mereka yang golput sudah menjadi ideologi atau bahkan fanatik, tantangan menjadi lebih besar. “Kelompok ini biasanya menolak dialog, apapun alasannya. Tapi syukurnya jumlah mereka sangat kecil,” tambah Mas Wiwit.
Relawan Lenteng Agung tetap optimis. Mereka percaya bahwa dengan komunikasi yang tulus dan konsisten, golput yang bukan ideologis akan terus berkurang. Di sisi lain, mereka juga menghormati pilihan individu yang memang memilih golput sebagai sikap politik, tanpa mengabaikan upaya menyadarkan.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan bukanlah hal mustahil. Dengan pendekatan yang humanis dan dialog yang membangun, fenomena golput yang sempat menjadi momok kini bisa ditekan. Relawan RIDO Lenteng Agung membuktikan bahwa mendekati hati rakyat jauh lebih efektif daripada sekadar mengandalkan narasi satu arah.
