Sepekan menjelang hari raya Idul Adha 1438 Hijriah, pendaftaran jumlah pekurban belum juga menunjukkan kenaikan signifikan. Al Mansur mengatakan, “Salah satu kemungkinannnya adalah karena kondisi ekonomi warga pun sedang sulit, ditambah lagi dengan kenaikan harga hewan kurban, sehingga jumlah pekurban tahun ini kemungkinan akan menurun.”
Namun apapun kondisi ekonominya, berkurban tetaplah perintah Allah SWT yang harus dijalankan. Justru harusnya saat keadan ekonomi sedang sulit begini, warga yang lebih mampu bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang mampu agar bisa berbahagia bersama di saat lebaran idul adha besok.
Semangat berbagi rezeki dalam ibadah kurban tidak hanya boleh dilakukan oleh mereka yang berpenghasilan lebih saja. Tidk sedikit orang yang tergolong miskin ternyata juga bisa melakukan ibadah kurban. Meski dalam kondisi ekonomi yang sulit, maka siapapun muslim – muslimat apapun statusnya tetap harus memiliki semangat atau niat untuk berkurban saat Idul Adha. Kurban bukan permasalahan miskin atau kaya, namun mau atau tidak mencari keridhaan Allah SWT.
Al Mansur mengatakan di depan jajaran pengurus pada hari Rabu (23/8),”Apapun kondisi ekonominya, niat dan semangat berkurban harus tetap digelorakan pada setiap kader, sampai saat ini laporan yang masuk ke DPD kurang lebih sepekan sebelum hari raya idul adha, baru 11 sapi dan 13 kambing pekurban dari jajaran kader. Kami berharap jumlah ini terus meningkat sampai hari pemotongan hewan kurban. Kemudian semangat berkhidmat membagikan daging kurban tetap harus prioritas, khususnya bagi kalangan tidak mampu.”

embangunan di Jakarta tentu berpengaruh terhadap warga Betawi sebagai penduduk asli kota Jakarta. Pembangunan besar-besaran di Jakarta semakin membuat pemukiman warga khususnya warga Betawi semakin sempit dan tergeser. Posisinya terlihat semakin tersingkir, semoga nasib warga Betawi tidak menjadi seperti suku Aborigin di Australia atau suku Indian di Amerika. Suku yang menjadi warga kelas dua di wilayah asli mereka sendiri, selain itu mereka juga kehilangan hak-hak sosial kehidupannya. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit, hotel, apartemen, minimarket, serta mall-mall secara perlahan dan sadar menyingkirkan penduduk asli. Pembangunan fisik Kota Jakarta yang tidak mempertimbangkan faktor kelanjutan hidup satu komunitas masyarakat dengan budayanya, ujungnya bisa saja seperti penghapusan etnis tertentu yang dijalankan pelan – pelan. Betawi sebagai pihak yang memiliki tanah sebagai warisan leluhur, kampung halaman, adat istiadat, dan bahasa, harus dihormati selaras dengan perkembangan jaman dan peradaban. Pembangunan Jakarta disinyalir telah berdampak terhadap ancaman kepunahan budaya dan masyarakat Betawi sebagai satu kesatuan suku atau etnis di Jakarta.

Tepat pukul 17.20 Ketua DPW PKS DKI Jakarta, Sakhir Purnomo beserta rombongan mengunjungi posko mudik mobile PKS Jakarta Selatan yang letaknya bersebelahan dengan agen Bus AKAP Sinar Jaya pada Jumat (23/6/2017).








