Home Kegiatan Hadapi Era Realitas Sintetis 2029, Komdigi PKS Jagakarsa Perkuat Penguasaan AI

Hadapi Era Realitas Sintetis 2029, Komdigi PKS Jagakarsa Perkuat Penguasaan AI

by admin

Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mampu menghasilkan teks, gambar, suara, hingga video yang sulit dibedakan dari kenyataan, ruang komunikasi publik menghadapi perubahan besar. Bukan hanya soal bagaimana informasi disampaikan, tetapi juga bagaimana kebenaran dibentuk, dipercaya, dan memengaruhi opini masyarakat.

Tantangan inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam Konsolidasi Komunikasi Digital (Komdigi) PKS se-DKI Jakarta yang digelar DPW PKS DKI Jakarta pada Ahad, 26 Juli 2026, di Gedung DPW PKS DKI Jakarta.

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas kader dalam memahami perkembangan teknologi sekaligus menyiapkan strategi komunikasi yang relevan menghadapi perubahan lanskap digital.

PKS Jagakarsa turut berpartisipasi melalui perwakilan Tim Komdigi. Bersama peserta dari berbagai jenjang kepengurusan, mulai dari DPD, DPC hingga DPRa se-DKI Jakarta, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai strategi komunikasi digital, literasi teknologi, serta pemanfaatan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan secara lebih efektif kepada masyarakat.

Hadir sebagai narasumber, Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PKS sekaligus pegiat media sosial Muhammad Hasan Abdillah, Ketua Komdigi DPP PKS Ahmad Mabruri, serta Ketua Bidang Komdigi DPW PKS DKI Jakarta P. Surya Pranoto. Ketiganya menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan teknologi tanpa meninggalkan etika, integritas, dan tujuan utama komunikasi publik.

Salah satu isu yang menarik perhatian peserta adalah perubahan menuju apa yang disebut sebagai “Realitas Sintetis”.

Ahmad Mabruri, yang akrab disapa Cing Mabrur, menjelaskan bahwa perkembangan AI akan semakin memengaruhi cara masyarakat menerima dan menilai informasi. Indonesia diproyeksikan memasuki fase Realitas Sintetis pada 2029, ketika sekitar 60–70 persen pemilih berasal dari Generasi Z.

Di tengah perubahan tersebut, teknologi generative AI juga membawa tantangan baru. Deepfake, voice cloning, serta berbagai bentuk manipulasi konten dapat membuat informasi palsu tampil semakin meyakinkan. “Karena itu kita harus melek teknologi dan memahami bagaimana AI bekerja, agar mampu memanfaatkannya sekaligus mengantisipasi dampak negatifnya,” ujar Cing Mabrur.

Menurutnya, penguasaan teknologi tidak cukup hanya pada kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi AI. Anggota juga perlu memahami bagaimana algoritma bekerja, bagaimana konten memperoleh jangkauan, serta bagaimana membangun komunikasi yang mampu menjangkau masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.

Ia juga menekankan bahwa aktivitas di ruang digital perlu menjadi bagian dari budaya organisasi. Penguatan UPA, peningkatan literasi digital, serta konsistensi berinteraksi dengan konten positif di media sosial, mulai dari memberikan like, membagikan informasi, hingga memberikan komentar yang konstruktif, merupakan bentuk partisipasi sederhana yang dapat membantu memperluas jangkauan pesan kepada masyarakat.

Bagi Tim Komdigi PKS Jagakarsa, konsolidasi ini bukan sekadar agenda pelatihan, tetapi menjadi pengingat bahwa perubahan teknologi menuntut kesiapan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Era komunikasi digital tidak lagi hanya berbicara tentang siapa yang paling banyak membuat konten, tetapi juga siapa yang mampu membangun kepercayaan di tengah banjir informasi sintetis.

Dengan semangat belajar, bergerak, dan melayani, Komdigi PKS Jagakarsa berkomitmen memperkuat kapasitas kader agar mampu menghadirkan komunikasi digital yang cerdas, kreatif, berintegritas, dan relevan dengan masyarakat, termasuk ketika era Realitas Sintetis semakin dekat.

Spread the love

You may also like

Leave a Comment