Ilmu tentang membangun keluarga tidak banyak diajarkan di bangku sekolah. Berangkat dari kebutuhan itulah, DPRa PKS Cipedak kembali menggelar Sekolah Keluarga Indonesia (SKI) di RT 01 RW 04, Cipedak, Sabtu (27/6). Mengangkat tema “Peran Doa dalam Kesejahteraan Keluarga”, kegiatan yang diikuti 34 peserta ini menghadirkan Ustazah Diah Annisa sebagai pemateri.
Berbeda dengan pengajian pada umumnya, Sekolah Keluarga Indonesia dirancang sebagai ruang belajar yang membahas berbagai persoalan keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain memperkuat nilai-nilai keislaman, peserta juga memperoleh bekal yang dapat diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Ke depan, kegiatan ini juga direncanakan menghadirkan pembelajaran keterampilan yang bermanfaat bagi keluarga. “Ilmu tentang keluarga tidak diajarkan di sekolah mana pun, padahal hampir setiap orang akan menjalani kehidupan berkeluarga. Karena itu, keluarga juga perlu terus belajar,” ujar Ustazah Diah Annisa.
Materi disampaikan dengan gaya santai dan interaktif menggunakan slide presentasi yang diselingi cuplikan adegan sinetron. Cara penyampaian yang komunikatif membuat suasana kajian terasa hidup sehingga peserta lebih mudah memahami materi. Salah satu ilustrasi yang diangkat adalah kisah tokoh dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang terus berdoa, berzikir, bersedekah, dan tetap berbaik sangka kepada Allah hingga akhirnya memperoleh kesempatan menunaikan ibadah haji.
Dalam pemaparannya, Ustazah Diah menjelaskan bahwa kesejahteraan keluarga tidak hanya diraih melalui kerja keras, tetapi juga melalui doa, ikhtiar, dan keyakinan kepada Allah SWT. Ia mengingatkan firman Allah bahwa Dia akan memperlakukan hamba-Nya sesuai prasangka hamba kepada-Nya. Peserta juga diajak untuk tidak hanya memohon kebaikan dunia, tetapi turut memanjatkan doa untuk kebahagiaan akhirat, seperti memohon surga dan husnul khatimah. Mengutip pesan Gus Baha, ia menyampaikan bahwa doa yang terus dipanjatkan tidak akan sia-sia karena Allah memiliki waktu terbaik untuk mengabulkannya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan diajukan dalam sesi diskusi, termasuk mengenai makna keikhlasan dalam berdoa dan bagaimana menyelaraskan ikhtiar dengan tawakal kepada Allah. Sesi tanya jawab yang diselingi doorprize membuat suasana semakin semarak dan mendorong peserta aktif berdiskusi hingga akhir acara.
Menurut dr. Rita, penggerak Rumah Keluarga Indonesia (RKI) RW 04, tema tentang doa sangat relevan karena mengingatkan keluarga akan kekuatan doa yang selama ini sering dipandang sebagai hal biasa, padahal doa memiliki peran besar dalam kehidupan seorang muslim. Ia juga bersyukur melihat antusiasme peserta yang mengikuti kajian hingga selesai. “Saya berharap Sekolah Keluarga Indonesia ini terus berjalan sehingga semakin banyak keluarga yang mendapatkan bekal ilmu untuk membangun rumah tangga yang harmonis dan sejahtera,” ujarnya.
